AKTIVATOR angkatan kita

HIMAGRO himpunan kita

AGRONOMI jurusan kita

Rabu, 18 Desember 2013

TAKSONOMI GULMA

I.     PENDAHULUAN

1.1          Latar Belakang

Konsepi dan metode analisis vegetasi sesungguhnya sangat beragam tergantun kepada keadaan vegetasi itu sendiri dan tujuannya. Contoh yang digunakan untuk mempelajari suksesi dan evaluasi hasil suatu pengendalian gulma. Pada area yang luas dengan vegetasi semak rendah misalnya digunakan metode garis (line intercept), untuk pengamatan sebuah peta dengan vegetasi yang tumbuh menjalar (creeping) digunakan metode titik (point intetcept), dan untuk daerah yang luas serta tidak tersedia waktu yang cukup digunakan metode estimasi visual (visual estimation). Juga harus diperhatikan keadaan geologi, tanah, topografi, dan data vegetasi yang mungkin telah ada sebelumnya, serta fasilitas kerja atau keadaan seperti peta, lokasi yang dicapai, waktu yang tersedia, dan sebagainya. Kesemuanya untuk memperoleh efisiensi pendataan vegetasi.

Vegetasi menggambarkan perpaduan berbagai jenis tumbuhan di suatu wilayah atau daerah. Suatu tipe vegetasi menggambarkan suatu daerah dari segi penyebaran tumbuhan yang ada baik secara ruang dan waktu. Rawa-rawa, padang rumput dan hutan merupakan suatu contoh vegetasi. Suatu vegetasi kadangkala dibagi menjadi beberapa komunitas yang tumbuh bersama di suatu daerah. Beberapa komunitas tersebut juga disebut assosiasi yaitu sekumpulan tumbuhan yang tumbuh bersama pada lingkungan yang sama. Komunitas tumbuhan akan selalu di dominasi oleh jenis tumbuhan tertentu sebagai gulma. Komunitas tumbuhan sering kali digunakan oleh ahli ekologi untuk menjelaskan suatu vegetasi di suatu wilayah. Adapun sifat-sifat dasar yang dimiliki oleh komunitas tumbuhan adalah:

a)  Mempunyai komposisi floristic yang tetap

b)  Fisiognomi (struktur, tinggi, penutupan, tajuk daun, dsb)

c)  Mempunyai penyebaran yang karakteristik dengan lingkungan habitatnya

Batasan gulma sampai saat ini masih bersifat kontroversi, tergantung kepada konsepsi dan ruang kajiannya. Gulma sebagai tumbuhan yang telah berhasil menyesuaikan diri dalam ekosistem yang telah dikembangkan oleh manusia dalam membudidayakan tanaman pada suatu lahan.  Dalam ekosistem termasuk dalam ekosistem pertanian (gulma agrestal), setiap spesies mampu berkembang biak dengan cepat dan bersaing dengan tanaman budidaya dalam hal pemanfaatan unsure hara, air, ruang, CO2, dan cahaya baik di lahan sawah maupun lahan kering. Akibat hal tersebut berpengaruh merugikan terhadap tanaman budidaya, berupa penurunan hasil panen, inang bagi hama dan penyakit, menyulitkan pekerjaan pemeliharaan tanaman dan pemanenan, serta meningkatkan biaya produksi. Pengenalan spesies gulma dan sifat-sifatnya sangat diperlukan untuk menentukan pengendalian yang tepat. Maka dari itu, dibuatlah makalah taksonomi gulma, khususnya pada gulma Fimbristylis littoralis Gaudich dan Brachiaria mutica untuk mengetahui informasi mengenai gulma tersebut agar menambah wawasan kita.

1.2          Tujuan dan Kegunaan

Tujuan dari praktikum taksonomi gulma ialah untuk mengetahui spesies gulma yang mengganggu khususnya pada gulma Fimbristylis littoralis Gaudich dan Brachiaria mutica yang bersaing dengan tanaman yang dibudidayakan.

            Sedangkan kegunaan dari praktikum ini yaitu mahasiswa dapat menambah wawasan mengenai gulma-gulma tertentu khususnya pada aspek klasifikasi gulma, habitat gulma, asal tanaman, deskripsi dan manfaat dari gulma tersebut. Serta mahasiswa juga dapat mengenali spesies gulma khususnya pada gulma Fimbristylis littoralis Gaudich dan Brachiaria mutica yang bersaing dengan tanaman yang dibudidayakan sehingga ke depannya kita dapat megantisipasi tanaman yang kita budidayakan dari gulma agar bisa terhindar atau tidak terganggu pertumbuhannya.


II.                TINJAUAN PUSTAKA

2.1         Klasifikasi

2.1.1     Gulma Fimbristylis littoralis Gaudich

Nama daerah           : Panon munding (Sunda), Tumbaran (Jawa)

Habitat                    : Daerah tropis

Nama lokal             : Babawangan

Nama lain               : Grasslike fimbry,
                                  Globe fringerush

Kingdom                : Plantae

Famili                     : Cyperaceae

Genus                     : Fimbristylis

Ordo                       : Poales

Divisio                    : Magnoliophyta



2.1.2    Gulma Brachiaria mutica

Kingdom             :  Plantae

Divisio                 :  Spermatophyta
Subdivisio            :  
Angiospermae
Kelas                   :  Monocotyledoneae
Ordo                    :  Gramineae
Famili                   :  Graminales
Genus                   :  Brachiaria
Spesies                 :  mutica



2.2              Habitat

2.2.1        Gulma Fimbristylis littoralis Gaudich

Fimbristyllis littoralis Gaudich adalah gulma yang hidup pada ekosistem padi sawah. Gulma ini juga termasuk pada bagian tumbuhan yang tahan genangan. Gulma ini termasuk ke dalam golongan teki yang terdapat di pertanaman padi sawah. Gulma ini tidak terlalu menimbulkan gangguan ekonomis, sehingga masih dapat ditolelir.

2.2.2 Gulma Brachiaria mutica

            Brachiaria mutica (Forsk.) Stapf adalah rumput tahunan yang tumbuh ditanah lembab atau basah, dengan suasana terbuka atau suasana ternaung, berbunga sepanjang tahun. Daerah penyebarannya meliputi 0-1200 m diatas permukaan laut. Sering tumbuh mengelompok.

            Brachiaria mutica (Forsk.) Stapf merupakan gulma penting di tanah alluvial/ hidromorfik dan gulma penting di saluran drainase. Rumput ini sering terdapat di sawah, di tepi parit, di tepi hutan, di tepi kolam ikan, pada tempat basah/lembab.

2.3              Asal Tanaman

2.3.1        Gulma Fimbristylis littoralis Gaudich

Suatu jenis fimbry yang dikenal dengan nama bola bumi fringerush. Gulma ini berasal dari pantai tropis Asia, tetapi sejak itu telah menyebar ke kebanyakan benua sebagai suatu jenis baru. Ini merupakan suatu rumput liar yang tersebar luas dalam beberapa area dan kadang-kadang dikhawatirkan pada padi. Puncak batang masing-masing diduduki oleh suatu spikelets, masing-masing berhubungan dengan suatu peduncle. Spikelet bola lonjong dan warna coklat kemerah-merahan di dalam. Spikelets berbunga dan kemudian berkembang menjadi buah-buah kecil, yang berwarna coklat.

2.3.2 Gulma Brachiaria mutica

Rumput ini berasal dari daerah Afrika (Uganda, Kenya, Tanzania) menyebar ke berbagai daerah termasuk ke daerah Asia dan pasifik. Dan mulai di introduksikan ke Indonesia tahun 1958 (Siregar dan Djajanegara, 1971), seiring dengan penelitian breeding dan penemuan ciltivar-cultivar baru rumput Brachiaria. Dari penemuan jenis baru ini, maka Brachiaria memiliki beberapa spesies diantaranya Brachiaria mutica (A.Rich.) Stapf, Brachiaria decumbens, Brachiaria humidicola, Brachiaria ruziziensis, Brachiaria dictyoneura, Brachiaria distachya (Forsea, 1992). Jenis-jenis rumput ini kemudian memiliki nama-nama lokal seperti palisade grass, palisade signal grass, yasiknaentotang pada jenis Brachiaria brizantha (A.Rich.), atau rumput signal, pada jenis rumput Brachiariadecumbens. Sedangkan di Indonesia biasanya menyebut jenis rumput Brachiaria dengan menyingkat namanya seperti rumput Bebe, Bede, Beha, Br dan blabakan (di jawa). Rumput ini juga berpotensi untuk dikembangkan di Indonesia karena bisa tumbuh baik di wilayah manapun di Indonesia, termasuk pada daerah asam (pH 3,5–5,5) seperti di Kalimantan Timur (Ibrahim, 1995).

2.4              Deskripsi

2.4.1        Gulma Fimbristylis littoralis Gaudich

Gulma golongan teki termasuk dalam familia Cyperaceae.Batang umumnya berbentuk segitiga, kadang-kadang juga bulat dan biasanya tidak berongga.Daun tersusun dalam tiga deretan, tidak memiliki lidah-lidah daun (ligula).Ibu tangkai karangan bunga tidak berbuku-buku. Bunga sering dalam bulir (spica) atau anak bulir, biasanya dilindungi oleh suatu daun pelindung. Buahnya tidak membuka. Contohnya Cyperus rotundus, Fimbristylis littoralis, Scripus juncoides dan Cyperus kyllingia.       
Ciri-cirinya adalah :     
1. Penampang lintang batang berbentuk segi tiga membulat, dan tidak berongga,    
2. Memiliki daun yang berurutan sepanjang batang dalam tiga baris,            
3. Tidak memiliki lidah daun, dan      
4. Titik tumbuh tersembunyi.

2.4.2 Gulma Brachiaria mutica

Tumbuhnya semi tegak sampai tegak (prostate/semierect-erect), merupakan rumput yang berumur panjang, tumbuh membentuk hamparan lebat, tinggi hamparan dapat mencapai 30 – 45 cm dan tangkai yang sedang berbunga dapat mencapi tinggi 1m (Jayadi, 1991), atau tanaman yang tumbuh creeping parennial (Humpreys, 1974). Sedangkan (Schultze-Kraft dan Teitzel, 1992). Memiliki rhizoma yang pendek dan tinggi batang sekitar 30-200 cm. Bentuk daun linear biasanya berukuran 10- 100 cm x 3-20 mm, berambut atau berbulu dan berwarna hijau gelap.Infloresence (bunga) terdiri dari 2-16 tandan (racemes) dengan panjang 4- 20 cm, spikelet dalam satu baris; luasrachis 1 mm, berwarna ungu, spikelet berbentuk elips panjang 4 -6 mm, berbulu atau berbulu pada ujungnya, panjang glume sepertiga dari panjang spikelet (Schultze-Kraft dan Teitzel, 1992).

Rumput ini tumbuh baik pada daerah humidsub humids tropis dan dapat tumbuh pada musim kering kurang dari 6 bulan. Tumbuh baik pada jenis tanah apapun termasuk tanah berpasir atau tanah asam, seperti dilaporkan oleh Mannetje dan Jones (1992) yang melaporkan bahwa Brachiaria brizantha, Brachiaria decumbensdan Brachiaria humidicola sangat toleran terhadap tanah-tanah yang asam dan respon terhadap pemupukan yang mengandung unsur N, P, K, walaupun tidak tahan terhadap tanah berdrainase rendah. Tahan terhadap injakan, dan renggutan (AAK, 1983). Tinggi tempat yang cocok untuk tanaman ini sampai 3000 m dpl dengan suhu optimal untuk tumbuh adalah 30–350C (Anonim, 1999).

Perbanyakan rumput ini biasanya menggunakan biji, biji yang dibutuhkan per hektar adalah 1,5 –12 Kg/Ha tergantung pada kaulitas biji. Biji biasanya di sebarkan kemudian ditanam pada kedalaman kurang lebih 2-4 cm pada tanah. Biji yang baru panen sulit untuk berkecambah, oleh karena itu sebaiknya biji ditoreh terlebih dahulu, direndam menggunakan asam sulfat atau disimpan dahulu selama 6-8 bulan sebelum digunakan. Selain menggunakan biji, rumput Brachiaria brizantha dapat diperbanyak dengan menggunakan sobekan atau stek batang (Schultze-Kraft dan Teitzel, 1992).

Brachiaria mutica tumbuh dengan cepat, dan dapat dipanen/digunakan untuk pengembalaan ringan (light grazing) pada umur 3-5 bulan setelah biji disebar. Bisa tumbuh dengan baik apabila ditanam bersama legum pohon atau herba seperti Desmodium heterocarpon, centrosema pubescens, Pueraria phaseoloides, Stylosanthes, leucaena leucochepala dll. Serta tahan terhadap hama spittlebug (famili Cercopidae). Rumput ini juga dapat terus menerus tumbuh/dirotasi dengan tinggi pemotongan 20-30 Cm, dapat dipanen dengan cara grazing atau sistem cut and carry. Panen yang dihasilkan mencapai 8-20 t/ha/tahun, dengan stocking rates 1,5 sapi jantan/ha pada musim kering dan 2,5 sapi jantan pada musim hujan. Sedangkan panen biji dapat diperoleh pada umur rumput 6-8 bulan tergantung pada kondisi lingkungan, hasil panen biji mencapai 100 – 500 Kg/ha.

2.5              Manfaat

2.5.1        Gulma Fimbristylis littoralis Gaudich

Adapun manfaat dari Gulma Fimbristylis littoralis Gaudich ialah dapat dijadikan sebagai bahan/pakan ternak, juga dapat berfungsi sebagai over crop atau tumbuhan penutup yang bernilai positif terhadap pencegahan atau antisipasi banjir atau degradasi suatu lahan. Manfaat lain dari gulma ini adalah dapat dijadikan sebagai kerajinan tangan seperti tikar. Hal ini tentu saja memberikan dampak positif dan juga menambah nilai tambah dari gulma tersebut agar lebih bermanfaat.

2.5.2        Gulma Brachiaria mutica

a.       Konservasi dan reklamasi lahan

Brachiaria sudah luas pemanfaatannya baik di tingkat penelitian maupun peternak. Pemanfaatannya pun tidak terbatas kepada penggunaanya sebagai hijauan pakan ternak. Siregar (1982) melaporkan bahwa Brachiaria merupakan spesies rumput yang efektif dalam mengatasi erosi tanah. Selanjutnya Siregar dan Djajanegara (1981) mengatakan bahwa Brachiaria mutica yang ditanam setelah pembabatan alang-alang diikuti pemotongan ”improved” pasture, yang selanjutnya dapat dimanfaatkan oleh ternak. Begitupun Haryanto (1982), melaporkan Brachiaria decumbens (Bede) yang ditanam dengan pemupukan sebanyak 1800 kg/ha/tahun dapat menekan pertumbuhan alang-alang. Kemampuan menekan alang-alang ini disebabkan karena Bede cepat tumbuh dan memiliki perakaran yang membentuk hamparan di permukaan tanah (Whyte, R.G., 1959), sehingga pupuk yang diberikan akan diserap terlebih dahulu oleh Bede dan tidak ada kesempatan bagi alang-alang. Hal ini mengakibatkan lama-kelamaan Bede akan menutupi alang-alang dan menyebabkan alang-alang mati. Adapun komposisi, produksi hijauan dan presentase Bede dan alang-alang.

Sedangkan Ciat (1983), melaporkan bahwa Brachiaria humidicola yang ditanam campuran dengan P.phaseoloides dapat menutupi semua area penelitian yang asalnya savana pada tahun pertama, Tabel 6. Hasil ini lebih baik jika dibandingkan dengan Andropogon yang baru menutupi lahan penelitian pada tahun ke dua. Selain itu Brachiria humidicola juga mampu beradaptasi pada daerah zural yang kandungan pasirnya tinggi, miskin drainasenya dan tahan terhadap kondisi kimia lahan tersebut. Disebutkan juga Brachiaria humidicolayang ditanam secara campuran dengan Pphesoeloides mampu menekan pertumbuhan rumput liar dan dapat berproduksi 3 ton/ha.

b.      Brachiaria sebagai cover crop

Rumput sangat penting sebagai agen pengikat tanah dalam melindungi tanah, menjaga kestabilannya dan untuk menanggulangi gulma di perkebunan dan merupakan sumber nutrient untuk herbivora.

c.       Brachiaria sebagai hijauan pakan ternak

Brachiaria sebagai pakan ternak sudah dikenal di Indonesia, Siregar et al., (1985) melaporkan bahwa brachiaria adalah salah satu rumput yang diberikan peternak dengan cara cut-carry. Selain sebagai cut-carry, penelitian mengenai Brachiaria di padang pengembalaan pun menunjukkan bahwa Brachiaria memiliki nilai positif sebagai rumput gembala. Ginting dan Pond (1996) melakukan penelitian dengan mengembalakan domba ekor tipis pada padang penggembalaan yang ditanami Brachiaria brizantha selama 6 minggu istirahat 6 minggu (GM1), 1 minggu istirahat 6 minggu (GM2) dan 12 minggu istirahat 12 minggu, hasil yang diperoleh disajikan pada Tabel 9. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa Brachiaria memiliki KCBK yang tinggi dan memberikan pertambahan bobot badan yang baik.

Brachiaria humidicola dan Brachiaria dictyoneura yang diberikan pada domba di Brazil adalah berturut-turut 11,3%; 59,1%; 75,2% dan 9,3%; 58,2%; 68,4%. Sedangkan kecernaan Brachiaria decumbens cv Basilisk pada umur tanam 14 hari dan 56 hari berturut-turut adalah 62,35% dan 54,8% (Bulo et al., 1994). Bagian rumput Brachiaria yang disukai oleh ternak biasanya adalah bagian daunnya, penelitian melaporkan bahwa domba mengkonsumsi 69% bagian daunnya dan 31% batangnya pada B. humidicola dan pada B. dictyoneura domba menkonsumsi 85% bagiandaunnya dan 15% bagian batangnya (Ciat, 1983).  




III.              PEMBAHASAN

Dalam praktikum ini kita dapat mengetahui berbagai jenis gulma yang berada di sekitar kita, tanpa kita sadari praktikan tidak mengenal secara baik keadaan tanaman baik nama latin, morfologi gulmaa itu sendiri maupun tipe dan jenis gulma tersebut. Gulma adalah tumbuhan yang tumbuh pada areal yang tidak dikehendaki, tumbuh pada areal pertanaman. Gulma secara langsung maupun tidak langsung merugikan tanaman budidaya. Pengenalan suatu jenis gulma dapat dilakukan dengan melihat keadaan morfologinya, habitatnya, dan bentuk pertumbuhanya. Berdasarkan keadaan morfologinya, dikenal gulma rerumputan (grasses), teki-tekian (sedges), dan berdaun lebar (board leaf).

Golongan gulma rurumputan kebanyakan berasal dari famili gramineae (poaceae). Ukuran gulma golongan rerumputan bervariasi, ada yang tegak, menjalar, hidup semusim, atau tahunan. Batangnya disebut culms, terbagi menjadi ruas dengan buku-buku yang terdapat antara ruas. Batang tumbuh bergantian pada dua buku pada setiap antara ruas daun terdiri dari dua bagian yaitu pelepah daun dan helaian daun., contoh gulma rerumputan Panicium repens, Eleusine indica, Axonopus compressus dan masih banyak lagi.

Golongan teki-tekian kebanykan berasal dari famili Cyperaceae. Golongan ini dari penampakanya hampir mirip dengan golongan rerumputan, bedanya terletak pada bentuk batangnya. Batang dari golongan teki-tekian berbentuk segitiga. Selain itu golongan teki-tekian tidak memiliki umbi atau akar ramping di dalam tanah. Contoh golongan teki-tekian: Cyprus rotundus, Cyprus compresus.

Golongan gulma berdaun lebar antara lain: Mikania spp, Ageratum conyzoides, Euparotum odorotum. Berdasarkan habitat tumbuhnya, dikenal gulma darat, dan gulma air. Gulma darat merupakan gulma yang hidup didarat, dapat merupakan gulma yang hidup setahun, dua tahun, atau tahunan (tidak terbatas). Penyebaranya dapat melalui biji atau dengan cara vegetatif. Contoh gulma darat diantaranya Agerathum conyzoides, Digitaria spp, Imperata cylindrical, Amaranthus spinosus. Gulma air merupakan gulama yang hidupnya berada di air. Jenis gulma air dibedakan menjadi tiga, yaitu gulma air yang hidupnya terapung dipermukaan air (Eichhorina crassipes, Silvinia) spp, gulma air yang tenggelam di dalam air (Ceratophylium demersum), dan gulma air yang timbul ke permukaan tumbuh dari dasar (Nymphae sp, Sagitaria spp).

Cara klasifiikasi pada tumbuhan ada dua macam yaitu buatan (artificial) dan alami (natural). Pada klasifikasi sistem buatan pengelompokan tumbuhan hanya didasarkan pada salah satu sifat atau sifat-sifat yang paling umum saja, sehingga kemungkinan bisa terjadi beberapa tumbuhan yang mempunyai hubungan erat satu sama lain dikelompokan dalam kelompok yang terpisah dan sebaliknya beberapa tumbuhan yang hanya mempunyai sedikit persamaan mungkin dikelompokan bersama dalam satu kelompok. Hal demkian inilah yang merupakan kelemahan utama dari kalsifikasi sistem buatan. Pada klasifikasi sistem alami pengelompokan didasarkan pada kombinasi dari beberapa sifat morfologis yang penting. Klasifikasi sistem alami lebih maju daripada klasifikasi sistem buatan, sebab menurut sistem tersebut hanya tumbuh-tumbuhan yang mempunyai hubungan filogenetis saja yang dikelompokan ke dalam kelompok yang sama.

Cara klasifiksi pada gulma cenderung mengarah ke sistem buatan. Atas dasar pengelompokan yang berbeda, maka kita dapat mengelompokan gulma menjadi kelompok-kelompok atau golongan-golongan yang berbeda pula. Gulma dapat dikelompokan seperti berikut ini :

1. Berdasarkan siklus hidupnya, gulma dapat dikelompokan menjadi :

a. Gulma setahun (gulma semusim, annual weeds), yaitu gulma yang menyelesaikan siklus hidupnya dalam waktu kurang dari satu tahun atau paling lama satu tahun (mulai dari berkecambah sampai memproduksi biji dan kemudian mati). Karena kebanyakan umurnya hanya seumur tanaman semusim, maka gulma tersebut sering disebut sebagai gulma semusim. Walaupun sebenarnya mudah dikendalikan, tetapi kenyataannya kita sering mengalami kesulitan, karena gulma tersebut mempunyai beberapa kelebihan yaitu umurnya pendek, menghasilkan biji dalam jumlah yang banyak dan masa dormansi biji yang panjang sehingga dapat lebih bertahan hidupnya. Di Indonesia banyak dijumpai jenis-jenis gulma setahun, contohnya Echinochloa crusgalli, Echinochloa colonum, Monochoria vaginalis, Limnocharis flava, Fimbristylis littoralis dan lain sebagainya.

b. Gulma dua tahun (biennial weeds), yaitu gulma yang menyelesaikan siklus hidupnya lebih dari satu tahun, tetapi tidak lebih dari dua tahun. Pada tahun pertama digunakan untuk pertumbuhan vegetatif menghasilkan bentuk roset dan pada tahun kedua berbunga, menghasilkan biji dan kemudian mati. Pada periode roset gulma tersebut sensitif terhadap herbisida. Yang termasuk gulma dua tahun yaitu Dipsacus sylvestris, Echium vulgare, Circium vulgare, Circium altissimum dan Artemisia biennis.

c. Gulma tahunan (perennial weeds), yaitu gulma yang dapat hidup lebih dari dua tahun atau mungkin hampir tidak terbatas (bertahun-tahun). Kebanyakan berkembang biak dengan biji dan banyak diantaranya yang berkembang biak secara vegetatif. Pada keadaan kekurangan air (di musim kemarau) gulma tersebut seolah-olah mati karena bagian yang berada di atas tanah mengering, akan tetapi begitu ada air yang cukup untuk pertumbuhannya akan bersemi kembali.

2. Berdasarkan habitatnya, gulma dikelompokkan menjadi :

a. Gulma darat (terrestial weeds), yaitu gulma yang tumbuh pada habitat tanah atau darat. Contoh Cyperus rotundus, Imperata cylindrica, Cynodon dactylon, Amaranthus spinosus, Mimosa sp. , dan lain sebagainya.

b. Gulma air (aquatic weeds), yaitu gulma yang tumbuh di habitat air.


IV.             PENUTUP

4.1              Kesimpulan

Berdasarkan dari pembahasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa :

1.      Gulma Fimbristylis littoralis Gaudich dan gulma Brachiaria mutica merupakan gulma dari tanaman padi. Dikatakan sebagai gulma padi, karena habitat gulma ini selalu berada pada pertanaman padi dalam kata lain merupakan pasangan hidup dari tanaman padi.

2.      Gulma Fimbristylis littoralis Gaudich berasal dari famili cyperaceae dan gulma Brachiaria muticamerupakan salah satu famili dari graminales yang banyak ditemukan pada daerah daratan. Meskipu beberapa dari spesies fimbristylis senang hidup di perairan/daerah lembab, namun lebih banyak dan dominan hidupnya di daratan. Berbeda dengan Brachiaria mutica yang habitatnya memang sepenuhnya di darat.

3.      Gulma Fimbristylis littoralis Gaudich merupakan suatu jenis fimbry yang dikenal dengan nama bola bumi fringerush. Gulma ini berasal dari pantai tropis Asia, tetapi sejak itu telah menyebar ke kebanyakan benua sebagai suatu jenis baru. Ini merupakan suatu rumput liar yang tersebar luas dalam beberapa area dan kadang-kadang dikhawatirkan pada padi. Puncak batang masing-masing diduduki oleh suatu spikelets, masing-masing berhubungan dengan suatu peduncle. Spikelet bola lonjong dan warna coklat kemerah-merahan di dalam. Spikelets berbunga dan kemudian berkembang menjadi buah-buah kecil, yang berwarna coklat.

4.      Gulma Brachiaria mutica berasal dari daerah Afrika (Uganda, Kenya, Tanzania) menyebar ke berbagai daerah termasuk ke daerah Asia dan pasifik. Dan mulai di introduksikan ke Indonesia, seiring dengan penelitian breeding dan penemuan ciltivar-cultivar baru rumput Brachiaria. Dari penemuan jenis baru ini, maka Brachiaria memiliki beberapa spesies diantaranya Brachiaria mutica (A.Rich.) Stapf, Brachiaria decumbens, Brachiaria humidicola, Brachiaria ruziziensis, Brachiaria dictyoneura, Brachiaria distachya. Jenis-jenis rumput ini kemudian memiliki nama-nama lokal seperti palisade grass, palisade signal grass, ya siknaentotang pada jenis Brachiaria brizantha (A.Rich.), atau rumput signal, pada jenis rumput Brachiaria decumbens. Sedangkan di Indonesia biasanya menyebut jenis rumput Brachiaria dengan menyingkat namanya seperti rumput Bebe, Bede, Beha, Br dan blabakan (di jawa). Rumput ini juga berpotensi untuk dikembangkan di Indonesia karena bisa tumbuh baik di wilayah manapun di Indonesia, termasuk pada daerah asam (pH 3,5–5,5) seperti di Kalimantan Timur.

5.      Manfaat dari kedua gulma tersebut pada umumnya sama, yaitu sebagai pakan ternak dan over cropnamun pada gulma Fimbristylis littoralis Gaudich memiliki nilai tambah lebih karena bisa dijadikan kerajinan tangan berupa tikar.



4.2              Saran

Sebaiknya dalam menentukan buruk atau tidaknya suatu makhluk hidup ada baiknya mempelajari dan mengenal betul. Karena gulma yang selalu dianggap sebagai benalu/tanaman pengganggu ternyata memiliki nilai tambah dan dapat dijadikan sebagai kerajinan tangan berupa tikat misalkan saja pada gulma Fimbristylis littoralis Gaudich.


DAFTAR PUSTAKA


anonim, mengenal Gulma, www.mediatani.com/
AAK. 1983. Hijauan Makanan Ternak Potong, Kerja dan Perah. Kanisius. Yogyakarta

Abdullah Sani, R dan Basery, M. 1982. The Integration of Cattle with Coconut Cultivation. I. Growth Performance and Production System.

Ciat.  1983.  Annual  Report.  Tropical  Pastures Program Centro Internacional de Agriculture Tropical. Colombia.

Chen, C. P. dan Othman, A. 1983. Effect of Cattle Production on Forage Under Oil Palm. Proceeding of The Sevent annual Conference of The Malaysia. Society of Animal Production.

Ginting, S. P., and K. R. POND. 1996. Effects of Grazing Systems on Pasture Production and Quality of Brachiaria Brizantha and Liveweight Gain of Lambs.

Haryanto, B., M. E. Siregar dan T. Herawati, 1982. Fariasi Komposisi Brachiaria decumbens vs Imperata cylindrica dengan Pemotongan dan Pemupukan Nitrogen Berat. Ilmu dan Peternakan. Puslitbang Peternakan. Vol 1, no 1, 29 – 31.

Humphreys, L. R. 1974. A guide to Better Pastures for The Tropics and Sub Tropics. Wright Stephenson & Co. Pty. Ltd. Australia. 3rd Edition.

Ibrahim, T. M dan C. N Jacobson. 1985. Evaluation of grass and Legume in Swards for Extensive Management in South Sulawesi. Research Report 1984/1985. Balai Penelitian Ternak. Bogor.

Jayadi,  S.  1991.  Tanaman  Makanan  Ternak Tropika.        FakultasPeternakan.   Institut Pertanian Bogor

Mardi, Siregar, M.E dan A. Djajanegara. 1971. Penggunaan Rumput Brachiaria brizantha Dalam Usaha Transformasi Padang Alang-Alang Menjadi Pasture. Buletin Lembaga Penelitian Peternakan, LPP. Bogor No 3, 1-7.

Nasrullah., R. Salam. 1994. Pengaruh Berbagai Jenis Tanaman Pakan Penutup Tanah Terhadap Pertumbuhan Anakan Kopi Robusta Pada Sistem Tumpang Sari. Prosiding Seminar Komunikasi dan Aplikasi Hasil Penelitian Peternakan Lahan Kering. Kupang. Indonesia

NG, T. T. 1972. Comparative Responses of Some Tropical Grasses to Fertilizer Nitrogen in Sarawak, E. Malaysia. Tropical Grasslands, G. 229-230.

Schultze-Kraft.  1992.  Forages  (Edi).  Plant Resources of South-East Asia (PROSEA). No.4.  Wageningen, Netherlands  and  Bogor. Indonesia.

Siregar, M. E., A. Djajanegara dan M. H. Harahap. 1973. Pengaruh Tingkat Pemupukan TSP Terhadap Produksi Segar Rumput Setaria sphacelata, Brachiaria brizantha dan Digitaria decumbens. Buletin L.P.P. Bogor. No 11, 1-7.

Whyte, R. G., T. G. R. Moir and J. P. Cooper. 1959. Grasses in Agriculture. FAO. Agric. Studies. No 12 Research Buletin, 10, 384-392.

Yuhaeni, S. 1990. Produksi Beberapa Hijauan Makanan Ternak di Bawah Naungan Pohon Kelapa pada Berbagai Umur yang Berbeda. Balai Penelitian Ternak Ciawi (un published).

ads

Ditulis Oleh : muhammad fadly Hari: 01.51 Kategori:

Tidak ada komentar: